Normalisasi Irigasi BKG Pebayuran Capai 50 Persen, Targetkan 800 Hektare Sawah Terairi
Oleh. : H.Razali Berabo
Sep. : 02 – 2026
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, dr Asep Surya Atmaja meninjau langsung progres normalisasi Saluran Sekunder (SS) Bendungan Kedung Gede (BKG) 15, 17, 20 dan 30 di Kecamatan Pebayuran pada Selasa,(02/09/2029).
Pebayuran – berabonews.id.
Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) dan Dinas Pertanian bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), serta Perum Jasa Tirta (PJT) terus mempercepat pelaksanaan normalisasi saluran irigasi di Kecamatan Pebayuran.
Camat Pebayuran, Hasyim Adnan Adha, menyampaikan progres pengerjaan normalisasi di Saluran Sekunder (SS) Bendung Kedung Gede (BKG) wilayah Kecamatan Pebayuran kini mencapai sekitar 50 persen. Pekerjaan tersebut ditargetkan dapat terselesaikan dalam kurun waktu sekitar 1 bulan ke depan.
Hari ini sudah berjalan hampir kurang lebih di minggu kedua, terus progresnya kurang lebih sekarang sudah berjalan hampir 50 persen.
Diperkirakan dalam jangka waktu satu bulan ke depan, itu sudah akan bisa diselesaikan, ujar Camat Pebayuran saat dijumpai usai peninjauan SS BKG bersama Plt Bupati Bekasi di Pebayuran pada Rabu, (02/09/2026).
Hasyim menjelaskan, secara teknis pengerjaan normalisasi dilakukan menggunakan 2 unit ekskavator yang bekerja dari sisi tanggul timur dan tanggul barat.
Masing-masing alat berat menangani 1 sisi tanggul untuk mengoptimalkan proses pengerukan dan peninggian tanggul agar debit air berjalan lancar dan tanggul irigasi menjadi kokoh.
Insya Allah hasilnya akan lebih optimal dan maksimal, karena masing-masing alat berat ini melakukan pengerukan sedimentasi sekaligus meninggikan tanggul.
Dengan begitu, aliran airnya diharapkan bisa lebih lancar, walaupun misalnya kapasitas debit airnya digelontorkan lebih banyak, insya Allah lebih bisa menampung, karena posisi tanggul sudah lebih tinggi, jelas Camat Pebayuran.
Lebih lanjut Hasyim menyebutkan, dalam pelaksanaannya Pemkab Bekasi melalui Dinas SDABMBK mengerahkan 1 unit alat berat,
Dinas Pertanian turut mendukung operasional, dan BBWS memberikan dukungan bahan bakar minyak (BBM). Sementara dari PJT menanggung keseluruhan kebutuhan operasional 1 unit alat berat, termasuk bahan bakar, dan operator.
Normalisasinya itu dilakukan dari SS BKG 15 sampai ke BKG 26, dengan jarak kurang lebih sekitar 10 sampai 11 kilometer, tambahnya.
Hasyim mengatakan, normalisasi ini diharapkan dapat segera mengatasi persoalan kekeringan yang dialami sejumlah lahan persawahan, khususnya yang berada di wilayah desa bagian ujung Kecamatan Pebayuran.
Sasaran sekarang ini memang yang kita tuju adalah mengairi lahan persawahan yang ada di desa terujung dari Kecamatan Pebayuran. Kurang lebih ada sekitar 700 sampai 800 hektare yang saat ini kondisinya kekeringan, jelasnya.
Disamping itu, menurutnya optimalisasi saluran irigasi juga berpotensi memberikan manfaat lebih luas. Saluran tersebut menjadi salah satu sumber utama pengairan lahan pertanian di Kecamatan Pebayuran yang secara keseluruhan dapat mengairi sekitar 5.000 hingga 6.000 hektare sawah.
Di sisi lain, Hasyim berharap normalisasi tidak berhenti pada kegiatan pengerukan saja. Ia mendorong adanya pemeliharaan saluran irigasi secara rutin oleh instansi yang memiliki kewenangan agar persoalan sedimentasi dan pertumbuhan tanaman air tidak kembali menghambat aliran.
Menurutnya, saluran irigasi tersebut secara administrasi menjadi kewenangan BBWS dan PJT sesuai dengan tugas masing-masing. BBWS berkaitan dengan pengelolaan saluran irigasi, sementara PJT berperan dalam pengaturan debit air.
Harapan kami dari 2 instansi ini tidak hanya mengatur debit airnya saja, tapi melakukan pemeliharaan saluran irigasi tersebut.
Supaya jangan sampai banyak tumbuh lagi tumbuhan air yang akhirnya kemudian bisa menjadi sedimentasi-sedimentasi yang bisa menghambat lajunya air, ungkapnya.
Terkait masa tanam, Hasyim mengungkapkan bahwa kondisi pertanian di Kecamatan Pebayuran masih beragam.
Sebagian petani telah menyelesaikan penanaman dan memasuki tahap perawatan tanaman, sementara sebagian lainnya belum dapat memulai penanaman kembali karena keterbatasan pasokan air terutama yang lebih dominan berada di Desa Karangsegar dan Desa Karangharja (Ujung Kecamatan Pebayuran).
Ia berharap setelah aliran air kembali optimal melalui normalisasi SS BKG, petani yang lahannya masih terdampak kekeringan dapat segera memulai masa tanam kedua.
Insya Allah kalau airnya masuk, petani baru mulai bisa menanam kembali untuk masa tanam kedua, pungkasnya. ( adv )
