Pemkab Bekasi Optimalkan Pembangunan Bendung BSH-0 untuk Suplai Air Pertanian
Oleh : H.Razali Berabo
Feb. : 10 – 2026
Pembangunan Bendung Sungai Hulu (BSH-0) di Desa Sukajaya Kecamatan Cibitung dan Desa Kalijaya, Kecamatan Cikarang Barat.
Cikarang Pusat – berabonews.id
Pemerintah Kabupaten Bekasi menegaskan komitmennya untuk mengoptimalkan pembangunan Bendung Sungai Hulu (BSH-0) yang berlokasi di Desa Sukajaya, Kecamatan Cibitung dan Desa Kalijaya Kecamatan Cikarang Barat.
Meski pelaksanaannya sempat terkendala cuaca dan belum sepenuhnya sesuai target, pembangunan bendungan ini tetap menjadi langkah strategis untuk mengantisipasi kekeringan lahan persawahan saat musim kemarau sekaligus mengendalikan debit air pada musim penghujan.
Kepala Dinas Sumber Daya Air Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDA-BMBK) Kabupaten Bekasi, Henri Lincoln mengatakan pembangunan Bendung BSH-0 memiliki peran penting bagi keberlangsungan sektor pertanian.
Bendungan ini ditargetkan dapat mensuplai kebutuhan air untuk 7.000 hektare lahan pertanian melalui Kali Srengseng Hilir sampai BSH-34 ke wilayah utara.
Bendung BSH-0 dapat mengatur aliran sungai agar tidak seluruhnya terbuang ke Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL) menuju muara, nantinya dua pintu air di bendung dapat diatur aliran air melalui Kali Srengseng Hilir untuk area persawahan, Ujarnya Selasa, (10/02/2026).
Henri Lincoln menjelaskan, dari sisi konstruksi Bendung BSH-0 dibangun dengan desain yang cukup kompleks dilengkapi dengan 8 pintu utama dan 2 pintu intake di hulu Kali Srengseng, serta retaining wall atau dinding penahan bendung berupa beton dengan kedalaman sekitar 12 meter.
Dalam proses pembangunannya, terdapat sejumlah kendala yang harus dihadapi pada awal kontrak area yang dijadikan bendung masih terdapat bangunan liar. Kemudian pelaksanaan penertiban oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang memerlukan waktu sekitar satu setengah hingga dua bulan lamanya.
Meski mengalami hambatan, pihaknya bersyukur pembangunan dapat dilaksanakan. Berdasarkan nota kesepahaman (MoU) kerja sama antara Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Pemerintah Kabupaten Bekasi. Dalam kerja sama tersebut kewenangan pengelolaan sungai dari BBWS, sementara pembangunan fisik bendung dilakukan Pemkab. Bekasi melalui Dinas SDA-BMBK.
Setelah proyek selesai dan masa pemeliharaan berakhir, bendung ini akan diserahterimakan menjadi aset BBWS, termasuk kewenangan pengoperasian pintu air. Pemkab Bekasi hanya membangun. Namun ke depan, jika BBWS mengizinkan, kami juga berencana membangun sarana pendukung lainnya, tambah Henri.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) pada Dinas SDA-BMBK Kabupaten Bekasi Agung Mulya mengatakan bendung BSH-0 dirancang untuk mampu menahan dan mengatur debit air dengan baik. Menurutnya ketika seluruh pintu bendung dan intake telah beroperasi distribusi air dapat diatur yang dialirkan ke Sungai CBL maupun ke Kali Srengseng hilir.
Insya Allah bendung ini mampu menahan debit air pada saat debit tinggi beberapa waktu lalu volume air yang diterima hampir 200 kubik, limpasan air tidak terlalu besar karena delapan pintu utama dan intake belum berfungsi maksimal, jelas Agung.
Agung Mulya mengungkapkan, atas keterlambatan penyelesaian proyek Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air pada Dinas SDA-BMBK Kabupaten Bekasi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, khususnya para petani yang selama mengharapkan keberadaan Bendung BSH-0.
Kami mohon maaf dan meminta kesabaran masyarakat, terutama para petani, kami berusaha semaksimal mungkin agar pembangunan bendung ini segera rampung, mengingat bendung ini sudah menjadi harapan petani sejak beberapa tahun lalu, ujarnya.
Agung juga menjelaskan bahwa pembangunan Bendung BSH-0 saat ini belum termasuk fasilitas penunjang, pihaknya sedang merencanakan pembangunan sarana dan prasarana pendukung.
Dinas SDA-BMBK telah menyiapkan sejumlah konsep, di antaranya pembangunan trash rack sebagai penahan sekaligus pengangkut sampah, pemasangan pagar pengaman, penataan taman, penerangan area bendung, serta pembangunan retaining wall tambahan sebagai tembok penahan permukiman warga di sekitar bendung guna mencegah pergeseran tanah.
Fasilitas penunjang lainnya dalam tahapan perancangan. Kami juga menggagas alat pengendali pintu air dengan elektrifikasi, berbasis teknologi digital serta pemasangan CCTV untuk memantau volume dan kondisi air secara real time.
Bendung BSH-0 dengan delapan pintu utama dan dua intake, jika masih menggunakan manual tentu akan sangat sulit, terutama saat debit air tinggi, ungkapnya.(adv)
